Balita di Sumatra Barat Tewas Dipukul Pakai Pipa Paralon Oleh Ayah, Ibu Tiri dan Tantenya

Nahas dialami AFH, seorang balita yang berhasil dibebaskan 3,5 tahun yang telah mati setelah mengalami pendarahan otak.
Diduga kuat, AFH menerima pukulan pipa paralon di diterima.
Aksi keji itu dilakukan sendiri oleh ayah kandung AFH, ibu tiri dan juga tantenya.
Dikutip TribunMataram.com dari Kompas.com, AFY telah bercerai.
Hak asuh pun jatuh pada ibu kandungnya. Sayangnya, sang ayah enggan menyerahkannya kepada ibu kandungnya.
Alih-alih mendapatkan sayang dari persetujuan, AFH sering mendapatkan persetujuan tidak layak sampai akhirnya ditolak.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bukittinggi AKP Chairul Amri.
“Meski hak asuh jatuh ke ibu kandung, namun mengundang yang berinisial H tak mau menyerahkan AFH pada berkomunikasi. H malah menitipkan AFH pada awalnya, yang tak lain adalah nenek AFH. Namun, meninggalkan kemudian dunia, ”terangnya.
AFH pun akhirnya tinggal dengan H, ibu tirinya yang berinisial RR dan adik RR sejak enam bulan lalu di Jorong Guguak Tinggi, Nagari Guguak Tabek Sarojo, Kecamatan IV Koto, Agam.
Sering Terdengar Minta AmpunKasat Reskrim menjelaskan, penganiayaan yang diterima oleh balita malang itu sudah selesai selama tiga bulan terakhir.
Bahkan tetangga mereka pernah mendengar teriakan meminta ampun dari mulut AFH.
“Tetangga sampai mendengar korban meminta ampun,” katanya, dilansir Antara.
Penganiayaan ini menyetujui lantaran hal-hal sepele.
"Misalnya korban ngompol itu langsung ditangani tidak baik," ungkap dia.
Meninggal, Pendarahan di OtakKapolres Bukittinggi, AKBP Iman P Santoso mengatakan, Minggu (15/3/2020), ibu kandung AFH dihubungi oleh mantan peneliti.
H menyebut AFH sakit dan kejang-kejang. Saat didatangi, ibu kandungnya curiga lantaran ia menemukan luka di badan mereka.
Kejadian itu lantas disetujui ke polisi. Balita malang itu menghembuskan napas terakhir karena kesulitan pendarahan di otaknya.
Diduga Dipukuli Pipa ParalonKamis (19/3/2020) polisi mengumpulkan dan membawa para tersangka ke Mapolres Bukittingi. Mereka adalah H, RR dan RY.
“Pelaku kita amankan pada Kamis (19/3/2020) dengan barang bukti sebuah pipa paralon yang sudah disetujui menggunakan alat bantu korban,” jelas Iman.
Mereka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan perlindungan maksimal 15 tahun penjara.
Sumber:  tribunnews.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Balita di Sumatra Barat Tewas Dipukul Pakai Pipa Paralon Oleh Ayah, Ibu Tiri dan Tantenya"

Post a Comment